ARU,AT--Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, berharap, masyarakat tidak mudah terprovokasi. Hal itu dia sampaikan pada prosesi adat Urlima untuk perdamaian Desa Kalar-Kalar dan Desa Salarem, Sabtu (4/7/2026).
Prosesi adat yang berlangsung khidmat dan sarat dengan nilai persaudaraan itu digelar di Lapangan Apel Kantor Bupati Kabupaten Kepulauan Aru, pasa Sabtu, (4/7/2026).
Selain Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, proses adat itu juga dihadiri Wakil Bupati Muhammad Djumpa, Kapolres Kepulauan Aru AKBP Alberth Perwira Sihite, unsur Forkopimda, Plh Sekretaris Daerah Adolof Pokar, Wakapolres, pimpinan OPD, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, Kepala Desa Durjela, Batu Goyang, Kalar-Kalar, Salarem, serta ratusan warga dari kedua desa.
Menurut Kaidel, konflik yang terjadi sesungguhnya tidak memiliki akar persoalan yang jelas, melainkan dipicu oleh rasa saling curiga dan provokasi.
Untuk itu, dia merasa bersyukur karena perdamaian akhirnya dapat terwujud setelah melalui berbagai upaya mediasi selama kurang lebih tiga bulan.
"Hari ini semua orang di Kabupaten Kepulauan Aru mengatakan sudah cukup. Kecurigaan harus berhenti. Perselisihan ini tidak memiliki tujuan dan tidak ada akar masalahnya, karena itu jangan lagi mudah terprovokasi," Ujar Kaidel.
Dia menegaskan, apabila di kemudian hari terjadi persoalan antarwarga, penyelesaiannya harus dilakukan melalui mekanisme adat dan musyawarah, bukan dengan tindakan kekerasan yang menyeret seluruh masyarakat desa.
"Kalau ada persoalan pribadi, jangan membawa nama kampung. Jangan karena satu orang membuat seluruh desa ikut bertikai. Adat kita masih hidup dan harus menjadi jalan penyelesaian setiap persoalan," ucap Kaidel.
Dalam kesempatan itu, Kaidel juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru atas terganggunya aktivitas masyarakat selama konflik berlangsung.
Menurutnya, dampak konflik tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Kalar-Kalar dan Salarem, tetapi juga oleh masyarakat di seluruh Kabupaten Kepulauan Aru yang selama beberapa bulan hidup dalam rasa khawatir.
"Atas nama pemerintah daerah dan dua desa yang bertikai, saya meminta maaf kepada seluruh masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru. Semoga ini menjadi pelajaran bagi seluruh desa agar setiap persoalan diselesaikan dengan adat, musyawarah, dan kekeluargaan," kata Timotius.
Sementara itu, Kapolres Kepulauan Aru, AKBP Alberth Perwira Sihite, mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum tersebut sebagai penutup seluruh konflik yang terjadi, sekaligus awal membangun persaudaraan yang lebih kokoh.
Ia mengingatkan, konflik yang berlangsung sejak April lalu telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, serta mengganggu situasi keamanan dan ketertiban di Kabupaten Kepulauan Aru.
"Kita semua berharap setelah puncak perdamaian ini tidak ada lagi konflik yang terulang. Mari kita saling mengasihi, saling menghormati, karena kita semua adalah satu darah, satu keluarga," ujar Kapolres.
Dapatkan sekarang