Bentrok Kembali Pecah di Unpatti, Tiga Mahasiswa Diamankan
Pihak kampus yang diwakili Wakil Rektor Bagian Kemahasiswaan, Aida Kubangun, saat memberikan keterangan pers terkait bentrok, kemarin. --Istimewa.
FaizalLestaluhu
20 Dec 2024 09:26 WIT

Bentrok Kembali Pecah di Unpatti, Tiga Mahasiswa Diamankan

Ibrahim : Miras Jadi Pemicu Awal Bentrok

AMBON,AT-Aparat Kepolisian Resor (Polres) Kota Ambon dan Pulau-pulau Lease telah menahan tiga mahasiswa yang terlibat bentrok di Universitas Pattimura (Unpatti). Meski telah ada upaya damai oleh kedua belah pihak, namun proses hukum tetap berjalan.

Bentrok antarmahasiswa kembali pecah di lingkungan kampus Unpatti, Kamis (19/12) siang. Polisi memastikan, bentrok kali ini dipicu konsumsi minum keras oleh sekelompok mahasiswa. Setelah mabuk, terjadi keributan diantara mereka. Perkalian menggunakan pukulan dan tendangan tak terhindarkan.

"Sekelompok mahasiswa kumpul-kumpul dan minum minum di kampus yang akhirnya mabuk dan terjadi keributan diantara mereka sendiri,"kata Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Kombea Pol. Driyano Andri Ibrahim, saat dikonfirmas media ini, kemarin.

Awalnya, bentrok hanya di dalam halaman kampus. Namun, aksi saling lempar batu meluas ke Jalan Ir. Putuhena, Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, masih di depan Unpatti.

Tapi bentrok ini tidak berlangsung lama. Aparat kepolisian bergerak melerai dan membubarkan massa. Tiga orang berhasil diamankan.

"Tiga orang sudah diamankan di Polsek Teluk Ambon untuk tindak lanjut proses hukum. Kita masih dalami peran tiga orang ini. Yang jelas satu orang pelaku penganiayaan. Korban satu orang,"Kapolresta menjelaskan.

Kapolresta Ambon meminta agar seluruh elemen masyarakat dapat menjaga situasi keamanan agar tetap kondusif di akhir tahun, terutama dalam menyambut Hari Natal dan Tahun Baru.

"Jangan sampai ada kelompok-kelompok yang bertikai sehingga menyebabkan meluasnya permasalahan menjadi konflik yang akhirnya menyebakan kesedihan di tengah-tengah masyarakat," pungkasnya, mengingatkan.

Upaya Damai Berhasil

Pihak kampus yang diwakili Wakil Rektor Bagian Kemahasiswaan, Aida Kubangun, dalam konferensi pers kemarin mengatakan, telah dilakukan mediasi dan kedua belah pihak bersepakat berdamai. Namun, karena  kedua pihak yang terlibat bentrok sama-sama membuat laporan polisi sehingga mediasu itu menyepakati proses hukum tetap berjalan.

"Dan pihak mereka pun telah melakukan mediasi melibatkan dari kedua mahasiswa yang bertikai tersebut. Sehingga jalan damai telah dilakukan," ujarnya.

Aida juga mengakui, Unpatti memiliki aturan, salah satunya melarang mahasiswa membawa dan mengonsumsi minuman keras di dalam kampus.

"Diatur jelas dalam peraturan rektor. Sehingga, mahasiswa yang kedapatan membawa miras akan dikenakan sanksi akademik, bahkan bisa dikeluarkan (drop out)," jelasnya.

Menurut dia, selama ini pihak kampus telah melakukan pengawasan ketat kepada mahasiswa. Tempat-tempat yang dianggap strategis untuk konsumsi minum keras sudah dijaga ketat oleh pihak keamanan kampus  sehingga keributan mahasiswa dapat dicegah.

"Penyebab utama dari konflik ini adalah hanya karena salah paham saja, saat mereka sedang minum. Akibatnya terjadi aksi pukul antar kedua mahasiswa ini. Dan melebar ke mana-kemana," ujarnya.
Aida juga menyesal, karena dua aktor utama bentrok merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) dan berteman baik.

Dia memastikan, kedua mahasiswa tersebut dalam keadaan baik-baik saja. Mereka sempat dilarikan ke Puskesmas Poka Rumahtiga. 
Pihak kampu menyerahkan penuh persoalan ini kepada aparat penegak hukum untuk diselesaikan secara hukum. Namun, Aida kembali menegaskan, sanksi tegas dari Unpatti akan diambil sebagai bentuk efek jera.

"Kemungkinan mereka berdua akan dikeluarkan (drop out). Hal ini dilakukan untuk membuat efek jera. Pelajaran ini juga ditujukan kepada seluruh mahasiswa. Tidak ada tolerir, baik mahasiswa maupun dosen, jika melakukan keselahan akademik secara fatal," tandasnya

JANGAN BAWA SUKU

Sementara itu, Ketua DPM-FISIP Unpatti, Aldi Rahabaf mengatakan, konflik mahasiswa di Unpatt yang berasal dari berbagai suku dan latar belakang budaya, menjadi sebuah fenomena yang mengkhawatirkan ketika masalah tersebut telah digiring ke isu kesukuan. 

"Isu ini meskipun tidak selalu menjadi akar masalah utama, seringkali menjadi pemicu ketegangan antar kelompok mahasiswa dalam beberapa kasus di UNPATTI beberapa tahun belakangan ini. Ketegangan ini muncul akibat persaingan antar mahasiswa atau kelompok-kelompok yang memiliki afiliasi dengan suku tertentu, yang dapat memperburuk polarisasi di kampus," ungkapnya. 

Menurutnya, perbedaan budaya, bahasa, dan cara pandang yang terkait dengan latar belakang suku masing-masing, tanpa pengelolaan yang bijak, bisa dengan mudah dipolitisasi untuk kepentingan kelompok tertentu.

Sebagai contoh, konflik yang awalnya disebabkan oleh perbedaan pendapat bisa saja dengan cepat berkembang menjadi isu suku ketika ada pihak yang merasa bahwa mereka diperlakukan secara tidak adil atau terpinggirkan karena asal suku mereka. Dalam kondisi tersebut, pihak kampus yang tidak cepat merespons dapat memperburuk situasi dengan membiarkan ketegangan itu berkembang lebih jauh.

Lebih jauh lagi, kata dia, ketegangan ini sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin menciptakan sentimen kelompok, dengan menganggap bahwa kelompok mahasiswa dari suku tertentu harus saling mendukung atau melawan kelompok lain yang dianggap sebagai musuh.

"Fenomena seperti ini dapat menciptakan ketidaknyamanan di lingkungan kampus, yang seharusnya menjadi tempat untuk membangun semangat kebersamaan dan pemahaman lintas budaya," paparnya. 

Lebih lanjut, dikatakan, melihat fenomena yang berkembang hari ini, Unpatti sudah harus  menegaskan komitmen untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan tidak membedakan mahasiswa berdasarkan suku atau latar belakang. Kebijakan yang jelas dan tegas tentang anti-diskriminasi dan perlakuan yang adil bagi semua mahasiswa harus diterapkan dan disosialisasikan dengan baik. 

Hal ini juga mencakup pembentukan tim atau lembaga yang bertugas menangani masalah kesukuan dan diskriminasi di kampus.

"Unpatti harus memiliki mekanisme pemantauan yang memungkinkan deteksi dini terhadap potensi konflik, serta upaya penyelesaian yang cepat dan efektif. Menggunakan pendekatan restorative justice (keadilan restoratif) dapat membantu mengembalikan hubungan antar mahasiswa yang sedang konflik tanpa memperburuk situasi,"sebutnya. 

Dengan langkah-langkah tersebut, kata dia, diharapkan Unpatti dapat menciptakan lingkungan akademik yang aman, harmonis, dan inklusif, di mana perbedaan suku dan budaya tidak menjadi sumber konflik, melainkan menjadi kekuatan untuk memperkaya pengalaman belajar di kampus. (Leo/Jar/Ely)

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai