Rony : Wild Card Sudah "Diharamkan" Sejak 2010
AMBON,AT-Bagai mendapat Durian Runtuh, mungkin istilah ini tepat diberikan kepada Pengprov Cabor di Maluku. Pasalnya, ada tiga cabor ketiban wild card oleh PB.
Sebelumnya, atlet di cabor itu gagal membawa pulang tiket menuju PON Aceh-Sumatera Utara, namun berkat wild card yang diberikan oleh PB masing-masing akhirnya bisa menambah kuota atlet PON Maluku menuju perhelatan akbar kejuaraan olahraga di Tanah Air itu.
Ketua Harian (Kethar) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Maluku membenarkan ada Cabor yang dapat jatah wild card atau tiket otomatis untuk berlaga di PON Aceh-Sumut nanti.
"Sementara ada sekitar tiga cabor yang dapat jatah wild card, salah satunya layar, " beber Mustafa kepada Ambon Ekspres di Ambon, Selasa (28/5).
Meski dapat wild card, lanjut Mustafa, tapi belum tentu berlaga di PON Aceh-Sumut, sebab semua akan disesuaikan dengan anggaran yang ada.
"Ya tergantung anggaran yang ada. Kalau tidak mencukupi maka tidak bisa berangkat, " tegasnya.
Mustafa mengatakan, pihaknya akan memprioritaskan atlet-atlet yang lolos secara murni. Artinya, mereka (atlet) yang melewati babak kualifikasi PON dan kemudian berhasil meraih tiket PON.
"Nah, kalau untuk atlet atau cabor yang dapat wild card belum tentu diberangkatkan karena akan disesuaikan dengan dana yang ada, " ucap Mustafa.
Lebih jauh dikatakan, KONI Maluku tidak mungkin mengusulkan ulang untuk menambah anggaran untuk cabor-cabor yang dapat wild card.
"Kami sudah usulkan anggaran ke pemerintah dan sudah disetujui angkanya. Jadi, tidak mungkin kami usulkan lagi untuk penambahan anggaran untuk jatah cabor yang dapat wild card, " katanya.
Mustafa pun mengatakan, pihaknya akan mengirimkan cabor-cabor yang diprediksi meraih medali di PON.
"Kalau cabor yang dapat jatah wild card, kami tidak menjamin atletnya bisa meraih medali. Makanya, kami akan berangkatkan mereka jika anggarannya memadai, " ujarnya.
Pada kesempatan itu, Mustafa juga meminta kepada pengurus cabor yang dijatahi wild card dari PB.
"Harus disadari bahwa anggaran yang disediakan sangatlah terbatas. Ya, kalau mereka bisa berangkat dengan biaya sendiri, tidak ada masalah. Yang jelas, mereka bisa berangkat tergantung dana yang tersedia, " pungkasnya.
Sementara itu, Rony Samloy, Pengamat Olahraga Maluku sangat setuju dengan langkah KONI untuk tidak mengirim atlet yang dapat jatah wild card ke PON.
"Jangan biarkan ruang untuk mereka untuk berangkat. Saya sangat setuju dengan langkah KONI Maluku, " tegasnya.
Menurut Rony, sebenarnya pembahasan menyangkut wild card ini sudah dibicarakan dalam rapat KONI Maluku sejak 2010 silam.
"Wils card itu sudah 'diharamkan' oleh KONI Maluku dan itu disepakati dalam rapat anggota KONI 2010 silam, " ungkapnya.
Oleh karena itu, kata Rony, pengurus KONI Maluku saat ini mesti melihat hal itu karena memang wild card akan menghabiskan anggaran daerah.
"Kalau KONI memberikan ruang dengan memberangkatkan atlet yang dapat jatah wild card, maka akan menghabiskan anggaran karena belum tentu atlet tersebut bisa merebut medali, " katanya.
Bukan hanya itu saja, imbuh Rony, Cabor yang dapat wild card itu menunjukkan bahwa cabang terkait itu gagal melakukan pembinaan dan kalau cabor baru lalu kemudian meminta wild card itu terlalu berlebihan memaksakan diri.
"Mestinya harus sabar dalam melakukan pembinaan sehingga ke depan jangan ada lagi yang mengharapkan anggaran dari pemerintah daerah karena wild card. Intinya, wild card itu sudah 'diharamkan'," tutup wartawan olahraga senior ini. (CAL)
Dapatkan sekarang