MASOHI, AT. – Kualitas udara di Kota Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, terus memprihatinkan. Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Maluku Tengah bagikan masker untuk warga.
Data IQAir pada Ahad (18/10/2026) pukul 06.00 WIT mencatat Indeks Kualitas Udara atau Air Quality Index (AQI⁺ US) mencapai 125, dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 sebesar 45,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Kondisi tersebut masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Menyikapi situasi ini, Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Maluku Tengah membagikan 750 masker sekaligus memberikan edukasi kepada 120 warga mengenai bahaya kabut asap dan langkah perlindungan kesehatan.
Ketua LRB-MDMC Maluku Tengah, Ahmad Saibony Tihurua, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian kemanusiaan sekaligus upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko paparan polusi udara.
“Ketika kualitas udara memburuk, melindungi kesehatan masyarakat harus menjadi perhatian bersama. Pembagian masker ini merupakan langkah sederhana, tetapi penting untuk membantu warga mengurangi paparan asap, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat yang memiliki penyakit penyerta,” ujarnya.
Menurut Ahmad, partikel halus PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan partikel tersebut berpotensi mengganggu kesehatan, terlebih apabila berlangsung terus-menerus atau dialami oleh kelompok yang rentan.
Karena itu, kegiatan yang dilakukan LRB-MDMC tidak hanya berfokus pada pembagian masker. Relawan juga membagikan brosur edukasi berisi informasi mengenai kondisi kualitas udara, kelompok masyarakat yang berisiko, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak kabut asap.
Dalam materi edukasi tersebut, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Warga juga disarankan menggunakan masker yang sesuai saat harus beraktivitas di luar rumah serta menutup pintu dan jendela a
pabila asap masuk ke dalam ruangan.
Kelompok rentan yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi anak-anak, balita, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit paru-paru, jantung, dan diabetes. Mereka diharapkan lebih berhati-hati dan membatasi paparan udara yang tercemar.
Masyarakat juga diminta memantau informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kesehatan, serta MDMC Maluku Tengah.
“Edukasi menjadi bagian penting dari upaya perlindungan masyarakat. Warga perlu mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika udara memburuk, mengenali gejala gangguan kesehatan, dan tidak menunda mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau keluhan yang semakin berat,” kata Ahmad.
Data IQAir pada waktu pembaruan tersebut juga mencatat suhu udara di Masohi sebesar 27 derajat Celsius, kecepatan angin 2 kilometer per jam, dan kelembapan 78 persen.
LRB-MDMC mengingatkan bahwa dampak polusi udara tidak selalu terlihat secara langsung. Karena itu, kewaspadaan perlu ditingkatkan, terutama ketika kabut asap masih berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat.
Selain perlindungan diri, masyarakat diharapkan berperan aktif dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran serta melaporkan kejadian kebakaran kepada pihak berwenang.
Melalui pembagian 750 masker dan edukasi kepada 120 warga, LRB-MDMC Maluku Tengah berharap masyarakat semakin memahami risiko kabut asap dan mampu mengambil langkah perlindungan yang tepat.
“Penanganan dampak kabut asap tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Diperlukan kepedulian, informasi yang benar, dan kerja sama semua unsur agar masyarakat, khususnya kelompok rentan, dapat terlindungi,” tutup Ahmad. (AJ).
Dapatkan sekarang