MASOHI,AT-Bencana yang datang tidak dapat diprediksi, yang dapat dilakukan adalah mengantisipasi dan selalu siap siaga akan datangnya bencana. Guna mewaspadai terjadinya bencana yang tak terduga, BPBD Maluku Tengah gelar Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometerologi yang bertempat di Halaman Kantor BPBD Malteng, Senin (31/7).
Gladi kesiapsiagaan itu, meliputi gelar pasukan dan peralatan serta simulasi yang dilaksanakan sebagai langkah antisipasi cuaca ekstrem, tanah longsor, gempa bumi, banjir, kebakaran hutan, dan gelombang tinggi. Kegiatan apel kesiapsiagaan penanggulangan bencana ini di pimpin oleh Latif Key, Kepala BPBD Malteng.
Menurut Latif menyampaikan, apel gelar kesiapsiagaan dalam rangka penanggulangan bencana alam bahwa bencana dapat terjadi sewaktu-waktu. Melalui kesempatan ini, kita sinergikan kesiapan dalam penanganan bila bencana terjadi bencana alam maupun non alam.
“Agar semakin kuat dan menjadi tangguh dalam menghadapi ancaman bencana khususnya ancaman hidrometeorologi,” jelasnya kepada media ini di sela-sela simulasi.
Tidak hanya kesiapsiagaan, kata Latif, para personel yang terlibat dalam penanganan harus mengecek kesiapan peralatan dan kendaraan siaga bencana.
"Kesiapsiagaan personel dan kendaraan operasional tanggap bencana merupakan bagian dari upaya memberikan perlindungan kepada masyarakat, Yakni perlindungan dari ancaman dan dampak bencana yang akan mungkin terjadi dan meningkatkan koordinasi secara terencana, terpadu, dan berkesinambungan dengan semangat jiwa gotong royong, " papar Latif.
Lebih jauh dijelaskan, kesiapsiagaan bencana merupakan bagian penting sebagai bagain dalam upaya untuk menghadapi bencana serta menanggulangi risiko bencana.
"Bencana sering kali bisa terjadi tanpa peringatan, sehingga kesigapan dalam menghadapinya menjadi kunci keselamatan. Kesiapsiagaan ini di lakukan melalui perorganisasian dan langkah-langkah yang tepat dan berdaya guna," tutur dia.
Mantan Camat Tehoru itu mengatakan, wilayah Maluku Tengah merupakan salah satu daerah yang paling luas di Maluku dengan tingkat kerawanan dengan berbagai bencana alam.
"Banjir, tanah longsor, gempa bumi, letusan gunung api, gelombang ekstrem, angin puting beliung, hingga tsunami, bisa terjadi kapan saja, makanya semua harus siaga ketika bencana itu datang, " ujarnya.
Latif menjelaskan, ancaman bencana hidrometeorologi dapat menyebabkan dampak di bidang kesehatan termasuk cedera dan korban jiwa serta munculnya berbagai penyakit pasca bencana dan dampak kesehatan lainnya.
"Itu juga dapat menyebabkan gangguan sosial, kerusakan ekonomi, dan lingkungan," jelasnya.
Saat ini, ucap Latif, pihaknya terus melakukan berbagai kegiatan dalam meminimalisir efek atau dampak kebencanaan tersebut, salah satunya dengan menggelar simulasi.
"Kami berharap, dampak yang ditimbulkan dapat diminimalisir dengan memastikan baik pasukan maupun peralatan selalu siaga karena kejadian bencana tidak dapat diprediksi," kunci Latif.
Sekadar tahu, bencana hidrometeorologi adalah bencana yang diakibatkan oleh aktivitas cuaca seperti siklus hidrologi, curah hujan, temperatur, angin dan kelembapan. Bentuk bencana hidrometeorologi berupa kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, longsor, angin puyuh, gelombang dingin, hingga gelombang panas.
Penyebab bencana hidrometeorologi adalah perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Indonesia sering mengalami perubahan cuaca dan iklim secara mendadak dan ekstrem yang berujung pada bencana hidrometeorologi.(DW)
Dapatkan sekarang