NAMROLE,AT-Wakil Bupati Buru Selatan, Gerson Elieser Selsily mengatakan, Buru Selatan masih menjadi Kabupaten dengan angka stunting tertinggi di Maluku tahun 2022 lalu yakni 41,68 persen. Namun pada tahun 2023 Bumi Lolik Lalen Fedak Fena ini mengalami penurunan prevalensi stunting sebesar 35,5 persen. Angka tersebut lantas tak dapat menjadikan kita berbangga diri. Tangungjawab kita bagi generasi Buru Selatan menjadikan kerja keras dan kepedulian kita untuk memulihkan stunting di bumi tercinta ini haruslah bersumber dari tiap nurani dan rasa cinta akan masa depan putra-putri daerah Buru Selatan. Demikian hal ini disampaikan Selsily dalam sambuatnya saat membuka Launcing Intervensi Serentak Dalam Pencegahan Stunting di Bursel yang berpusat di Kantor Desa Fatmite kecamatan Namrole Kabupaten Buru Selatan Sabtu (8/6) kemarin.
Saat ini, kata Selsily, stunting masih menjadi musuh bersama kita, sehingga terbitlah surat edaran Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengenai pelaksanaan kegiatan intervensi serentak pencegahan stunting didaerah dengan memastikan 10 aksi pasti dapat terlaksana dengan baik di tiap Posyandu.
Untuk itu, setiap sasaran diantaranya, Balita/Baduta ibu hamil, ibu nifas dan calon pengantin harus dipastikan datang ke Posyandu tanpa terkecuali.
Karena nantinya, lanjut Selsily Tim TPPS juga akan memonitoring tiap pelaksanaan Posyandu, sehingga pihak desa dan Puskesmas wajib memastikan tiap aspek Posyandu terlaksana dengan penimbangan menggunakan antropometri terstandar, PMT penyuluhan bergizi seimbang, memastikan seluruh sasaran teredukasi serta memastikan pencatatan hasil Posyandu segera terinput pada data E-PPGBM.
“Saya ingin menekankan bahwa Pemkab Bursel sangatlah serius dalam memulihkan daerah kita ini dari stunting, sehingga TIM TPPS serta para pihak dan staholder lainnya perlu menguatkan lagi komitmen dan kesepahaman bersama,” katanya mengingatkan.
Mantan wakil ketua DPRD Kabupaten Buru Selatan ini berharap kepada Tim TPPS untuk tetap memantau pelaksanaan Posyandu .
“Untuk Bappeda tetap memantau dan mengevaluasi tiap pelaksanaan intervensi serentak, Dinas KP2KB memastikan setiap layanan intervensi spesifik tepat sasaran, Dinas PMD memastikan tiap kepala desa menggunakan dana desa dengan tetap dalam pelayanan Posyandu , Dinas Sosial dan PUPR untuk memastikan bantuan sosial kepada tiap keluarga beresiko stunting , serta sejajaran TPPS lainnya untuk tetap besinergi dan berkolaborasi dalam pelaksanaan intervensi serentak ini,”tegasnya.
Dikatakannya, pelaksanaan intervensi serentak pencegahan stunting ini akan dilaksanakan selama bulan juni ini mengikuti jadwal Posyandu tiap daerah kabupaten, yang kemudian akan di tindaklanjuti dalam evaluasi bulan Juli nantinya, sehingga dalam pelaksanaan posyandu baik/ ibu OPD terkait serta para pihak lainnya harus mengnjungi dan memantau pelaksanaan Posyandu dimanapun berada.
“Kita semua perlu berperan dalam pelaksanaan intervensi serentak ini. Jadikan Posyandu sebagai langkah awal memulihkan desa kita dari stunting. Mari bersama cegah stunting, mari baku kele wujudkan generasi emas Buru Selatan,” tandasnya.
Sementara itu Plt Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana (DKP2KP) Wa Yeni mengatakan, tujuan kegiatan ini adalah untuk sama-sama dengan semua stakholedr terkait menurunkan anggka tunting di Bursel.
“Kegiatan ini dibiayai dengan anggaran DIPA Kabupaten Buru Selatn serta anggaran yang bersumber dari dana desa (DD) desa Fatmite kecamatan Namrole,” singkatnya.
Ikut hadir dalam kegiatan itu Sekda Buru Selatan Ruslan Makatita, Asisten II Setda Bursel Hadi Longa, Kasat Reskrim IPTU Yefta Marlon Melasa, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) serta puluhan anak bayi, balita, dan ibu hamil. (Edy)
Dapatkan sekarang