AMBON,AE-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku kembali memotong anggaran PON yang diusulkan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Awalnya Pemrpov telah menyetujui anggaran Rp 14 miliar dari Rp 24 miliar yang diusulkan KONI. Namun jumlah anggaran (Rp 14 miliar) itu kembali dipotong.
Menurut Mustafa Kamal, Ketua Harian KONI Maluku bahwa, anggaran yang diusulkan itu untuk operasional Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024 di Aceh-Sumatera Utara, September mendatang.
"Jadi, kami usulkan anggaran sebesar Rp 24 miliar dan jumlah dana itu sudah diusulkan ke Pemprov dan setelah rasionalisasi anggaran, Pemprov setuju Rp 14 miliar. Dana itu untuk operasional PON Aceh-Sumut nanti," ungkap Kamal saat menghubungi Ambon Ekspres via telepon, Minggu (30/6).
Lanjut Kamal, anggaran sebesar yang diusulkan itu, sudah termasuk akomodasi, termasuk sudah dihitung jumlah atlet dan official beserta kontingen.
"Anggaran itu untuk keperluan atlet, pelatih hingga akomodasi kontingen PON Maluku, " terang dia.
Kamal mengaku, setelah disetujui anggaran Rp 14 miliar, Pemprov kembali memotong anggaran PON menjadi Rp 10 miliar.
"Kami tidak tahu alasannya sehingga dipotong. Karena yang kami tahu Pemprov telah setuju Rp 14 miliar. Tapi belakangan dipotong Rp miliar lagi sehingga dana PON Maluku menuju Aceh-Sumut sebesar Rp 10 miliar, " beber Kamal.
Sebenarnya, tutur Kamal, dari perhitungannya, anggaran yang diusulkan itu cukup realistis karena PON kali ini digelar pada dua tempat yakni di Aceh dan Sumatra Utara.
"PON kan di dua tempat, jadi jumlah anggaran yang kami usulkan itu masih wajar. Namun, dana yang diusulkan itu dipres lagi menjadi Rp 14 miliar, kemudian dipotong lagi menjadi Rp 10 miliar, maka kami akan gunakan sesuai dengan kebutuhan prioritas," tegasnya.
Pada kesempatan itu, Kamal pun berharap, Pemprov bisa merealisasi anggaran tersebut sehingga program untuk PON bisa terlaksana dengan baik.
"Kan angkanya turun dari yang sudah disetujui, maka kami akan gunakan sebaik mungkin. Kami juga pastikan bahwa, atlet yang lolos PON tetap diprioritaskan untuk yang bertarung di ajang olahraga akbar di Indonesia itu, " jelasnya.
Menurut Kamal, dengan sisa waktu beberapa bulan , untuk persiapan menuju PON yang akan dibuka pada 8 September 2024 itu, pihaknya akan menyesuaikan program sesuai dengan anggaran.
" Kami hanya ingin adanya dukungan anggaran dari Pemprov maupun DPRD sehingga seluruh program yang telah disiapkan bisa berjalan maksimal, " pintanya menutup pembicaraan.
Terpisah, Heygel Tengens, Pengamat Olahraga Maluku menuturkan, KONI telah menggelar Pelatda, maka harus bisa memanfaatkan sisa waktu untuk fokus pada target PON.
"Waktu persiapan menuju PON tinggal dua bulan. Jadi KONI harus benar-benar maksimal dalam menyiapkan atlet, " tutur dia.
Heygel pun mengaku prihatin dengan atlet yang sudah mengorbankan waktu, tenaga dan masa mudanya mereka untuk disiplin berlatih untuk mencapai prestasi, namun sayangnya Pelatda PON hanya dua bulan saja.
“Program Pelatda harus dimaksimalkan. Jika tidak, maka atlet tidak akan maksimal di ajang olahraga berskala nasional itu,” katanya.
Terhadap kondisi ini, kata Heygel, Pemprov maupun DPRD harus membantu KONI untuk mendapatkan anggaran menghadapi PON melalui mekanisme.
"Kalau atlet berangkat ke PON tanpa TC maupun try out, maka jangan bermimpi untuk meraih medali di PON nanti, " kunci Heygel. (CAL)
Dapatkan sekarang