AMBON, AT.--Penelitian Tim Ekspedisi Sungai Nusantara di Sungai Batu Gajah, Sungai Batu Merah, dan Sungai Air Besar di Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Maluku, menemukan timbulan sampah di aliran sungai. Ketiga sungai ini didominasi sampah plastik dan pakaian bekas.
Salah satu peneliti Tim Ekspedisi Sungai Nusantara, Amiruddin, mengatakan sampah plastik yang dibuang sembarangan akan sulit hancur, dan berubah menjadi partikel kecil yang disebut mikroplastik.
“Bahkan Sungai Batu Gajah dan Sungai Air Besar juga masih digunakan masyarakat sebagai tempat mencuci pakaian,” kata Amiruddin, Sabtu, 12 November 2022.
Unsur fosfat dari sampah, kata dia, dapat menyebabkan hilangnya biota air dan mengancam kesehatan manusia. Dalam penelitian ini, kata Amiruddin, juga dilakukan pengambilan sampel air.
“Sampel itu untuk kita lihat apakah sungai di Kota Ambon sudah ditemukan partikel mikroplastik,” ujar Amiruddin.
Dalam Ekspedisi Sungai Nusantara, tim ini juga melakukan pengukuran kualitas air di ketiga sungai tersebut dengan beberapa parameter seperti klorin, fosfat, dan logam berat. Hasilnya, ditemukan parameter fosfat di Sungai Batu Gajah sebesar 1.25 miligram per liter (ppm) dan Sungai Batu Merah sebesar 0.46 ppm.
Angka itu sudah melebihi baku mutu air sungai sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 sebesar 0.3 ppm. Peneliti Ekspedisi Sungai Nusantara, kata Amiruddin, mengatakan tingginya fosfat di sungai disebabkan saluran limbah rumah tangga dan cucian yang langsung dibuang ke sungai tanpa diolah terlebih dahulu.
Ketua Komunitas Peduli Sungai Siber Link, Edi Luhukay, yang ditemui di Sungai Batu Gajah, mengatakan, maraknya sampah di sungai disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai. Selain itu, tidak ada fasilitas penyediaan tempat sampah membuat masyarakat terus membuang sampah ke sungai.
“Apalagi saat ini debit air menurun, jadi sampah akan tersangkut,” kata Edi.
Edi berharap pemerintah aktif memberikan imbauan dan pendidikan ke masyarakat supaya tidak membuang sampah di sungai. Sebenarnya, kata Edi, peraturan untuk tidak membuang sampah di sungai sudah ada. Tinggal kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan.
“Dan itu yang menjadikan kami membentuk KPS ini,” kata Edi, yang ditemui Tim Ekspedisi Sungai Nusantara saat membersihkan sampah di aliran sungai.
“Sampah yang kami bersihkan ini sebenarnya bukan dari warga kami, tetapi ini berasal dari masyarakat yang berada di hulu kami,"tambahnya. (tab)
Dapatkan sekarang