AMBON, AT. – Regional Office Mata Garuda LPDP menggelar kegiatan silaturahmi dan diskusi bersama Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Satya Hangga Yudha Widya Putra.
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini diikuti puluhan alumni dan awardee penerima beasiswa LPDP dari wilayah afirmasi Indonesia Timur, khususnya Maluku. Sabtu (11/4).
Chief of Regional Office Mata Garuda, Amrullah Usemahu, dalam sambutan pembuka menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan mempererat jejaring antaralumni sekaligus memperbarui informasi terkait kebijakan Kementerian ESDM, terutama di sektor pertambangan di kawasan Indonesia Timur.
“Diskusi ini menjadi ruang strategis bagi alumni untuk mengambil peran aktif dalam pembangunan daerah, khususnya dalam proyek strategis nasional seperti Blok Masela,” ujarnya.
Usemahu menegaskan, sebagai putra daerah, alumni LPDP Maluku memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi nyata melalui keilmuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan magister dan doktor, baik di dalam maupun luar negeri.
Ia berharap forum tersebut mampu melahirkan masukan, saran, serta rekomendasi strategis yang dapat ditindaklanjuti, baik sebagai bahan kajian internal Mata Garuda maupun sebagai referensi bagi pemerintah daerah dan pusat.
Dalam pemaparannya, Satya Hangga Yudha Widya Putra menekankan pentingnya percepatan pengembangan Blok Masela di tengah dinamika geopolitik global yang berdampak pada sektor energi, khususnya fluktuasi harga minyak dan gas alam cair (LNG).
“Proyek Blok Masela memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional, terutama di tengah tekanan terhadap APBN akibat ketergantungan impor energi,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, lonjakan harga minyak dunia hingga mencapai 110 dolar AS per barel turut memberi tekanan terhadap neraca perdagangan, meskipun pemerintah telah melakukan diversifikasi sumber impor. Karena itu, optimalisasi produksi energi dalam negeri menjadi langkah krusial.
Dari sisi komersialisasi, Hangga menjelaskan bahwa pengelolaan produksi LNG direncanakan dengan komposisi 60 persen untuk ekspor dan 40 persen untuk kebutuhan domestik, dengan tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dalam negeri.
Terkait perkembangan proyek, ia menyebut pengembangan Blok Masela menunjukkan kemajuan signifikan. Hal ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Inpex dan PT Pertamina (Persero) pada 30 Maret 2026. Saat ini, SKK Migas tengah mengawal proses negosiasi pembelian LNG sebagai salah satu tahapan menuju keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID).
Dari sisi manfaat daerah, proyek ini diharapkan memberikan kontribusi melalui skema Participating Interest (PI) sebesar 10 persen bagi daerah, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta transfer pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat lokal. Selain itu, proyek ini juga diproyeksikan menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian wilayah sekitar.
Pemerintah, lanjut Hangga, terus mengawal pengembangan Blok Masela melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga, dengan fokus pada hilirisasi industri, penguatan ketahanan energi nasional, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Diskusi ini diharapkan menjadi langkah awal kolaborasi yang lebih konkret antara alumni LPDP dan pemangku kebijakan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia Timur, khususnya Maluku. (Jen).
Dapatkan sekarang