AMBON,AT-Wakil Ketua DPRD Maluku Azis Sangkala dorong rencana Pemerintah Provinsi Maluku jadikan tradisi Abdau di Desa Tulehu Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah menjadi agenda Pariwisata Nasional.
Menurut Azis, selain Abdau, ada juga tradisi lainnya yang selalu menjadi perhatian warga ketiga lebaran Idhul Adha maupun Idhul Fitri. Misalnya Lawa Pipi di Negeri Hila Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah.
Kedua tradisi ini dilaksanakan bersamaan sehari setelah sholat Idhul Adha. Sama halnya dengan pukul sapu yang dilakukan warga Mamala Morela Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah setelah lebaran Idhul Fitri hari ketujuh.
"Ketiga tradisi ini selalu dilakukan setiap lebaran idul Adha maupun Idhul Fitri dan bagi kami layak diterapkan menjadi agenda Pariwisata Nasional," kata Azis kepada Ambon Terkini. Id, Selasa (18/6)
Menurut Azis masing-masing tradisi ini mempunyai kekhasan dan akar budaya yang panjang di tambah dengan kreatifitas kekinian membuat, kegiatan makin semarak dan menarik perhatian warga bahkan kunjungan Wisatawan baik lokal domestik maupun manca negara.
Sehingga perlu ditetapkan sebagai agenda Pariwisata Nasional oleh Pemerintah Provinsi Maluku dan Dinas Pariwisata agar mendapat perhatian serius.
"Kami sangat mendorong upaya Pemerintah daerah maupun Dinas Pariwisata untuk mengusul ketiga tradisi ini sebagai agenda Pariwisata Nasional," tegas Sangkala.
Anggota DPRD Maluku dapil Kabupaten Maluku Tengah ini mengaku, melalui kemitraan dengan pemerintah daerah, maka akan diupayakan untuk dibicarakan bersama.
"Dalam kemitraan DPRD dan Pemerintah daerah, maka kita akan usulkan dan bahas bersama, termasuk membicarakan persiapan dan kesiapannya dengan Pemda nanti," tandasnya.
Sementara itu, Pj. Gubernur Maluku Sadali Ie mengaku, Pemerintah Provinsi Maluku berupaya menjadikan tradisi Abdau di Desa Tulehu Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, menjadi agenda pariwisata nasional karena keunikan yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia, serta menarik perhatian warga dari berbagai tempat.
"Atraksi Abdau ini hendaknya dikembangkan dan dikemas menjadi atraksi budaya yang berkualitas hingga menarik minat wisatawan nusantara dan mancanegara," sebut Sadali Ie saat hadiri kegiatan Abdau Selasa kemarin.
Abdau berasal dari kata Abadda yang artinya Ibadah yang bermakna pengabdian seorang hamba kepada Sang Khalik.
Atraksi Abdau dilakukan ribuan pemuda Negeri Tulehu yang saling berdesakan untuk mengangkat bendera berlafadz kalimat Tauhid setinggi-tingginya.
Hal itu sebagai perwujudan refleksi pengakuan kehambaan yang tulus dalam menerima Islam sebagai agama langit yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW untuk tetap lestarikan.
Sadali Ie bilang, perayaan Idul Adha yang diisi dengan tradisi Abdau merupakan keunggulan bagi negeri Tulehu, membuat negeri tersebut makin dikenal dengan tradisi tersebut.
Dihari yang sama Selasa (18/6), Ribuan warga Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah juga gelar tradisi Lawa Pipi. Lawa pipi merupakan tradisi yang digelar warga Hila setiap Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban.
Lawa Pipi dalam bahasa negeri Hila berarti bawa Lari Kambing. Dimana kambing-kambing tersebut akan dipikul oleh anak muda sambil berlari-lari kecil mengelilingi kampung dan juga mengelilingi Masjid sebanyak Tujuh (7) kali.
Perjalanan itu diiringi dengan suara takbir dan tahmid yang menggema dari ribuan warga Negeri Hila. Mereka mengenakan pakaian serba Putih. Dari orang dewasa hingga anak-anak. Tradisi tersebut dihadiri juga para wisatawan dari berbagai daerah hingga orang Asing (Luar Negeri).
Sebelum proses penyembelihan hewan kurban, lebih dulu dilakukan pembacaan doa atau tahlil oleh tetua adat, tokoh agama dan kasisi mesjid di beranda Rumah Tua Ollong .
Tahlilan yang dimaksud bertujuan untuk memanjatkan doa kepada arwah para leluhur sekaligus bentuk rasa syukur kepada Sang Khalik.
Hewan kurban (kambing) yang paling besar dan sehat ditempatkan pada deretan paling depan. Untuk kambing ini disebut, kambing temal atau yang pertama.
Setelah memanjatkan doa, maka kambing yang paling besar akan terlebih dahulu disembelih, dimana kambing yang disembelih lebih awal itu diibaratkan sebagai pengganti Nabi Ismail AS, dan akan dikeluarkan lebih dulu pada posisi terdepan dan diikuti hewan kurban lainnya.
Setelah kambing pertama disembelih, warga akan melempar uang logam hingga uang kertas ke arah kambing tersebut, dengan niat untuk kebaikan serta menolak bala. Proses tersebut diibaratkan dengan lempar Jumrah.
Ustad, Jamaludin Bugis mengatakan, tradisi Lawa Pipi atau antar kambing merupakan tradisi yang sudah di jalankan pada Hari Raya Idul Adha, seperti Hari Raya Idul Adha 1445 Hijriah 2024 ini.
"Ini harapkan tradisi dari Negeri Hila, dimana kami lakukan pada Lebaran Idul Adha tiap tahunnya.Sebelum kita menyembelih kambing tersebut, terlebih dahulu kita mengelilingi kampung dan Masjid sebanyak 7 kali," ujar Jamaludin, Selasa (18/6).
Menurutnya, tradisi Lawa Pipi selain mencerminkan ibadah haji di Tanah Suci, juga menggambarkan bagaimana para leluhur Hila menanamkan nilai-nilai spiritual ke anak cucu untuk dapat memaknai ibadah haji sebagai rukun Islam ke lima.
"Tradisi Lawa pipi ini miniatur daripada pelaksanaan ibadah haji di Makkah al Mukaromah. Sebab hampir semua kegiatan haji ada di tradisi ini, misalnya Sai, Wukuf, Tawaf, Jamrah kecuali Mikat," jelasnya.
"Jadi ini cara leluhur kita menanamkan nilai-nilai spiritual ke kita anak cucu Hila. Kita harus bisa memaknai Ibadah Haji sebagai rukun Islam ke lima," tmbah Jamaludin menjelaskan. (Wahab/Jardin)
Dapatkan sekarang