Ragam
14 Jan 2026 16:54 WIT
Gubernur Hendrik Lewerissa dengan lantang menegaskan akan mengambil sikap keras terhadap manajemen rumah sakit rujukan yang berlokasi di Desa Rumah Tiga tersebut.
"Ini menjadi catatan serius bagi saya. Kebetulan pada 20 Januari 2026 nanti, Wakil Menteri Kesehatan, dr. Beymin Paulus Octavianus akan berkunjung ke RSUP Leimena. Saya akan bicara langsung di sana, saya akan marah di depan Wamen," tegas Hendrik saat dikonfirmasi via telepon, Selasa (13/1).
Gubernur mengakui memahami beban operasional rumah sakit yang harus membiayai gaji dan operasional secara mandiri. Namun, ia menekankan bahwa nyawa manusia tidak boleh dikorbankan demi urusan administratif atau biaya.
"Mereka butuh uang, saya paham. Tapi ketika manusia dalam kondisi darurat datang, beri dulu bantuan medis! Soal biaya dan administrasi itu nomor dua. Peradaban kita tidak akan maju jika pelayanan kesehatan lebih mengutamakan uang ketimbang nyawa," ujarnya berang.
Ia juga mengingatkan bahwa meski RSUP Leimena berada di bawah wewenang pemerintah pusat, dirinya sebagai kepala daerah tidak akan tinggal diam. Ia bahkan membandingkan dengan fasilitas milik daerah.
"RSUD Haulussy, RSUD Umarela, dan RS Jiwa itu di bawah Pemprov. Kalau tiga RS ini tidak melayani rakyat dengan baik, lapor saya, akan saya tindak tegas!" imbuhnya.
KRONOLOGI TRAGEDI MAUT
Kisah tragis ini menimpa Petrus Thenu dan istrinya, Linda Maelissa. Keduanya mengalami kecelakaan maut di kawasan Desa Naku saat perjalanan pulang dari RSUP Leimena pada Jumat malam (9/1).
Keluarga korban, Thomas de Queljoe, menceritakan bahwa peristiwa ini bermula saat Pasutri tersebut hendak berobat ke RSUP Leimena. Awalnya mereka menggunakan fasilitas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, namun ditolak dengan alasan tunggakan pembayaran.
Karena mendesak, mereka terpaksa mendaftar sebagai pasien jalur umum. Linda sempat ditangani dan dipasang infus oleh tenaga medis. Namun, karena keterbatasan biaya untuk rawat inap secara mandiri, pasutri ini memutuskan pulang meski kondisi Linda masih sangat lemah dan jarum infus masih menempel di tubuhnya.
"Dalam perjalanan pulang itulah kecelakaan terjadi di turunan jalan Desa Naku. Diduga rem blong. Petrus meninggal di tempat, sementara Linda meninggal saat dalam perawatan di RST setelah ditolong warga," ungkap Thomas dengan nada kesal.
Thomas menyayangkan kekakuan pihak RSUP Leimena.
"Seandainya pihak RS mempermudah proses BPJS atau memiliki rasa kemanusiaan, korban tentu sudah rawat inap dan kecelakaan ini tidak akan terjadi. Kami harap pemerintah bertindak tegas agar tidak ada lagi nyawa yang melayang karena urusan biaya," pungkasnya. (Jar/Ely)