Ragam
28 Aug 2025 13:19 WIT
AMBON, AT-Dulu batu dipakai untuk berburu dan bertahan hidup, kini batu kembali bersuara lewat irama. Sebuah karya musik dari Maluku menghadirkan batu bukan sekadar benda keras, tetapi simbol kekuatan, sakralitas, dan identitas budaya. Ditangan seorang dosen dan mahasiswa Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon, Program Studi Musik Gereja dan Pendidikan Seni Musik di Maluku, menciptakan karya musik berbasis batu.
Kepada media ini, Rektor Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon, Prof. Dr. Yance Z. Rumahuru, M. A, menyampaikan, karya yang diciptakan oleh Nelsano A. Latupeirissa, merupakan karya yang lahir dari proses penemuan, pengembangan, hingga transformasi batu sebagai medium musik.
"Yang kemudian diwujudkan dalam bentuk pertunjukan artistik penuh daya tarik. Bukan hanya sekadar eksperimen, karya ini merupakan bagian integral dari disertasi doktoralnya, yang menegaskan posisi Nilsano sebagai kandidat doktor musik dengan fokus pertunjukan," kata rektor usai kegiatan, di gedung taman budaya karpan, Rabu, (27/8/2025).
Menurut rektor, Ini adalah karya yang luar biasa, bukan hanya karena kebaruan ide, tetapi juga karena mampu menghadirkan batu sebagai sumber bunyi yang musikal, estetik, dan bernilai budaya.
Dijelaskan, lebih jauh, karya ini diharapkan menjadi penanda kebangkitan para budayawan musik dan seniman dari Provinsi Maluku, yang ke depan akan semakin menunjukkan peran dan kontribusinya di tingkat nasional maupun internasional.
"Melalui karya ini, Nilsano Lathuprisa tidak hanya memperluas cakrawala seni pertunjukan, tetapi juga memberikan pembelajaran yang sangat berharga bagi dunia akademik dan masyarakat seni," ungkap rektor.
Sementara itu, ditempat yang sama, dosen IAKN, Nelsano A. Latupeirissa, mengatakan, sebuah karya musik unik lahir dari tanah Maluku, berangkat dari fenomena sederhana batu. Apa yang selama ini dianggap benda biasa, ternyata menyimpan nilai budaya, sakralitas, dan ritme kehidupan.
"Terinspirasi dari permainan anak-anak di tepi pantai yang suka “toki-toki batu,” sekelompok dosen dan mahasiswa dari Program Studi Musik Gereja dan Program Studi Pendidikan Seni Musik berhasil mengolah batu menjadi alat musik. Karya ini tidak hanya menghadirkan bunyi yang ritmis, tetapi juga menegaskan kembali simbolisasi batu sebagai bagian penting dalam sejarah dan identitas masyarakat Maluku, mulai dari berburu, mencari nafkah, hingga spiritualitas," tuturnya.
Dijelaskan, batu bagi masyarakat Maluku adalah simbol kekuatan. Dari batu, leluhur kita bertahan hidup, dan dari batu pula lahir irama yang bisa kita rayakan hari ini.
"Sebanyak 50 orang mahasiswa dan dosen terlibat dalam proses kreatif ini, yang digodok selama dua bulan. Meski sempat menghadapi pasang surut semangat latihan, karya ini berhasil rampung, dan sukses dilaksanakan," ujarnya.
Lebih lanjut, dikatakan, lebih dari sekadar eksperimen artistik, karya ini juga menjadi bagian penting dari perjalanan akademik dirinya, menuju studi Strata tiga (3).
“Kami siap mempersembahkan karya ini, baik di tingkat nasional maupun internasional, sebagai bukti bahwa musik Maluku memiliki kekayaan dan keunikan tersendiri,” tambahnya.
Dia berharap, dengan hadirnya karya musik batu ini, masyarakat luas diharapkan semakin mengenal Maluku bukan hanya melalui alam dan baharinya, tetapi juga lewat inovasi seni budaya yang lahir dari warisan leluhur.
Dosen Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon, Nelsano A. Latupeirissa, yang saat ini sedang menempuh Program Doktor (STK 6), merujuk pada program pendidikan strata 3 (S3) untuk jenjang pendidikan tertinggi. Dengan konsentrasi Pertunjukan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Dalam rangkaian studinya, ia menghadirkan sebuah karya inovatif yang patut mendapat perhatian luas, musik batu. Dengan tagline, Pertunjukan musik lintas media, terinspirasi dari mitos sumpah batu dari desa Aboru, "Hatu AP'UA". (Leo)